Kamis, 18 Februari 2016

Fenomena LGBT

Ya, LGBT, fenomena yang sebenarnya tidak asing.

Kita tau keberadaannya memang nyata dan ada sejak dulu. Hanya jumlahnya saja yang sekarang semakin banyak. Tidak hanya di daerah terpencil atau kampung-kampung. Kini mereka meraja di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Bukan hanya tersebar di masyarakat umum,malahan sekarang ada sangat dekat dengan institusi pendidikan, sebagian telah masuk hingga ke tingkat Sekolah Dasar.

Lontong-Gemblong-Bala2-Tahu

Ketika nasi berubah bentuk menjadi Lontong, yang kadang isinya kita tidak tau apakah oncom atau potongan sayur mayur. Dibalut dengan daun pisang agar terlihat sopan,terkesan religius karena menutup auratnya. Namun ketika kita dekati dan buka tabirnya,maka akan terlihat aslinya, balut penipu.

Gemblong. Hitam kecoklatan, padat, keras, namun yang sangat bertolak belakang dengan penampilannya adalah, sifatnya sangat manis.
Sungguh sangat tak pantas.

Bala-bala. Satu untuk semua. Ya, satu bentuk yang berisi segala. Kol, wortel, daun bawang, terigu dan lainnya. Tidak jelas ia berdiri, tak mampu memilih satu isi. Benar-benar di luar garis yang ada.

Tahu. Sebentuk yang seharusnya lembut, rapuh, tidak keras. Namun berubah menjadi tegap, lebih keras, kasar, dan permukaan tak beraturan. Mengambil peran sebagai lawannya.

Tak ada rasanya mereka yang dilabel-i halal. Tapi di toko modern dan besar ada sebagian, mungkin agar masyarakat tidak menghindari, bahkan ikut menikmati. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat, di terminal,di sudut-sudut sekolah bahkan.
Sebagian masyarakat menerima keberadaan mereka, namun lebih banyak lagi yang menghindari, bahaya mungkin menurut mereka.

Kenapa dihindari? Ya itu cari aja sendiri alasannya.
Tapi kalau gw yang bertindak dan punya kuasa mengahadapi mereka, maka gw gak bakalan menghindar, gw sikat aja semua, gw lumat kunyah KEMBALIKAN KEPADA KODRATNYA sebagai makanan ke dalam perut. :D
Meski mungkin resiko selalu mengintai.

Ini gw ngomongin makanan loh ya..... jangan baper deh... jiaaaaahhh..

posted from Bloggeroid

Rabu, 17 Februari 2016

Word From A Bus #17Feb2016

Seperti biasa pagi gw langkahi dengan sepasang sendal capit dan batik, berderap tanpa tergesa menuju tempat manusia becerai berai... terminal.

Sedikit basah bercampur tanah merah, maklum semalam hujan datang sedikit ke pagi, hingga sisa embun dan kilaunya masih ada.

Pagi ini gw terpaksa lewati dulu jadwal kopi, setelah bangun gw tidur lagi, lalu bangun pagi sudah meninggi, tak ada waktu lagi bercengkrama dengan pahitnya.

Hari ini raya sudah luar biasa terisi, iya maksudnya jalan raya. Selalu saja harus gw perjelas, mikir dikit kenapa sih.
Singkat gw dapet bis, meski sedikit lama menanti.

Kosong,banyak kursi tak berisi,terlalu tinggi sudah mentari saat aku pergi sepertinya. Bukan jadwal umum. Umum karena mayoritas, mayoritas di ibu kota. Berangkat lebih pagi menghindari macet yang mengular.

Apa yang sebenarnya yang mereka cari, yang gw cari, pergi pagi, pulang saat mentari sudah menepi.
Uang? Kebahagiaan? Kemapanan? Atau hanya untuk bekerja? Karena lumrahnya manusia dewasa itu bekerja. Kalo di luar kelumrahan biasanya jadi omongan,yah maklum,masih banyak manusia yang lebih sibuk mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri.

Masih banyak sih, tapi mulai bosan, nanti saja jika masih mampu, gw lanjut lagi.

Untuk sekarang,lanjut saja dengan mimpi yang ada.

~Bukan berarti harus tidur lagi.

posted from Bloggeroid