Minggu, 04 September 2016

Puisi Kuntung Rokok



Di dalam ruang sempit berdinding baja.
Berserak kami tak beraturan.
Tak mampu lagi mengais tubuh kami.
Sebagian kami tlah menjadi abu, lebih rapuh dari arang yang mencekam.

Namun didalam keheningan ratap kami, masih kami dipaksa menyaksikan di hadapan kami,
mereka, sanak saudara kami yang terbakar.

Masih harus kami mendengar pedih jerit mereka yang tersulut menjadi kepulan asap.

Wahai tuan.
Tidakkah ada sedikit rasa di sana? Di sela gumpalan daging berisi darah yang merah menghitam.

Tidakkah tergetar mendengar jeritnya?

Tidakkah pilu melihat kalapnya api melahap tubuh kami?

Tidakkah sesak dada tersedak kepulan jiwa-jiwa kami yang tersiksa?

Bila kiranya hati tuan tertabur abu kami. Niscaya perih kami akan tuan rasakan jua.

Tapi dendam bukan tabiat kami, takdir kami tak menggariskan diri untuk mampu membalas.

Tapi setidaknya buang jasad kami yang telah berserak bahkan bertumpuk. Bukan untuk kami..

Tapi untuk kerapihan kamar anda kampreeetttt..!!!

Kamis, 01 September 2016

Gw, Kopi dan Langit yang cengeng..

Beranjak dari sebuah kursi bambu kecil yang sudah sedikit berlumut, setelah sebelumnya gw duduk menghabiskan sisa kopi sarapan pagi ini, kemudian mengenakan sepatu fantovel hitam mengkilat namun sudah uzur serta sedikit cacat di sana-sini.
 
Dengan setelan kantoran biasanya, kemeja; celana katun; tas seukuran file holder, mulailah gw melangkah melewati halaman rumah yang tak begitu luas, terhenti beberapa langkah saat harus melewati pintu pagar sebahu, pintu logam berwarna hijau yang gw anggap sebagai gerbang menuju kehidupan luar yang penuh dengan ketidak pastian.
 
Sejenak hati berdetak tak tentu, gw pandang langit, langit yg gelap tertutup sebagian oleh awan hujan, langit yang gw rasa sangat cengeng beberapa hari terakhir ini, selalu mengisi hari dengan air matanya, entah itu pagi, siang bahkan malam.
 
Gw tarik nafas panjang setelah sebelumnya gw urai do’a yang diajarkan ibu waktu gw masih kecil dulu. “Bismillahi tawakaltu alallah, la haula wala kuwata illa billah..”, hmmm.. entahlah, hanya Dia yang tau apa lagi yang akan gw hadapi hari ini, gw hanya mampu berharap untuk bisa melalui hari ini tanpa ada kejutan besar lainnya.
 
Pagi ni di depan pintu tol, tempat biasa gw menantikan bis yang akan mengantarkanku ke tujuan biasanya,  tampak lebih ramai dari biasanya, mungkin karena hari ini adalah hari masuk kerja pertama kali sejak libur panjang kemarin.  Namun seperti biasanya, keramaian yang sepi, banyak orang lalu-lalang, datang dan pergi, namun jarang sekali terdengar percakapan diantara mereka, seakan mereka benar-benar berada di dunianya masing-masing, dengan visi dan misi yang jauh berbeda, tapi gw yakin ada satu kesamaan di benak mereka, nafkah adalah salah satunya.
 
Belum habis kepala ini mencerna pemandangan sekitar, tiba-tiba hujan turun tanpa permisi, atau mungkin sudah permisi tapi gw ga sempet peduli, perlahan namun pasti, yang tadinya hanya butiran kecil dalam waktu singkat berubah menjadi lebih besar dan banyak. Buyarlah kerumunan pagi itu, seperti sekumpulan semut di atas makanan yang panik ketika di jahili anak kecil. Berlari kesana-kemari mencari tempat berteduh sambil menaruh tangan di atas kepala, padahal mereka tahu tangan mereka tak sebesar kepala mereka, dalam artian sebenarnya tentunya. Seperti mereka, gw beranjak dari tempat gw berdiri semula, mencari tempat yang teduh, menghindari butiran air yang hampir membasahi seluruh tubuh gw. Gw tahan sedikit larinya biar terlihat lebih “cool”, namun memang merugikan, demi sebuah pandangan dari orang-orang yang belum tentu peduli, gw rela sedikit lebih berbasah-basahan.
 
‘ah sial..’ gw bergumam dalam hati.. ‘belum sempet dapet bis dah keburu hujan, kacau dah..’ namun tetap dengan wajah yang tenang dan seperti tidak keberatan menjalani pagi ini sambil direpoti oleh cengengnya langit. Dibawah gw mengalirlah air melalui celah-celah jalanan yang tadi masih setengah kering, membentuk gemaris yang tak datar, bergerak tanpa kemonoton-an, meliuk melewati rintang.
 
Ga lama kemudian tenggelam suara sekitar-gw oleh rintikan hujan yg cukup deras.. gw pun tenggelam tanpa sadar dalam lamunan..
 
Muncul kembali ingatan-ingatan yang hampir dilumat oleh lamanya waktu yang terlewati, beberapa ingatan yang mengembalikan sedikit rasa itu, rasa hangat yang menelusur, merambat, mengisi sela-sela pori yang kosong, bergerak seakan menyelimuti diri, bergerak dari arah hati ke seluruh tubuh gw.
 
Sadar betapa hebat gw merindukan rasa itu, entah telah berapa lama gw melupakannya, berapa lama hati ini telah membeku dan tidak merindukan sentuhnya, mungkin lelah yang menutupi semuanya, hingga kerinduan itu tertimbun dan tak pernah muncul ke permukaan hingga saat ini.
 
(to be continue..)

*ini tulisan dari tahun 2010 kalo ga salah, kalo salah ya maap.

Cuci Kaki Sebelum Tidur

kaki kaki yang terus melangkah..
berhenti pun tetap melangkah..
sedari jemari kaki yang mungil dan mudah terluka..
hingga kini sebesar tekad untuk terus mendekati mimpi..

sebagian mungkin ada luka yang tak lantas hilang..
guratan saksi lincahnya kaki berlari tinggalkan waktu lalu..
goresan kenangan yang dipatri bersama mereka..
meski mungkin kini tak lagi langkah diayun berdampingan..
bergerak sebagian berlompatan menuju arah yang berbeda..

namun getarnya masih terasa saat menatap kembali kaki ini..
kaki yang tak lagi muda dan mulai mengeras..
kuat kaki ini kini tak lepas dari iringan ayunan kaki kalian..
langkah yang saling menguatkan, memberi pelajaran..

semoga, nanti kaki kita bisa berjumpa kembali..
saat telapak sudah mulai bisa bersandar santai..
pada impian yang akhirnya tercapai..

Teruntuk kalian, hei kaki...
jangan lupa dicuci sebelum tidur..
bisi bau.