Beranjak dari sebuah kursi bambu kecil yang sudah sedikit berlumut, setelah sebelumnya gw duduk menghabiskan sisa kopi sarapan pagi ini, kemudian mengenakan sepatu fantovel hitam mengkilat namun sudah uzur serta sedikit cacat di sana-sini.
Dengan setelan kantoran biasanya, kemeja; celana katun; tas seukuran file holder, mulailah gw melangkah melewati halaman rumah yang tak begitu luas, terhenti beberapa langkah saat harus melewati pintu pagar sebahu, pintu logam berwarna hijau yang gw anggap sebagai gerbang menuju kehidupan luar yang penuh dengan ketidak pastian.
Sejenak hati berdetak tak tentu, gw pandang langit, langit yg gelap tertutup sebagian oleh awan hujan, langit yang gw rasa sangat cengeng beberapa hari terakhir ini, selalu mengisi hari dengan air matanya, entah itu pagi, siang bahkan malam.
Gw tarik nafas panjang setelah sebelumnya gw urai do’a yang diajarkan ibu waktu gw masih kecil dulu. “Bismillahi tawakaltu alallah, la haula wala kuwata illa billah..”, hmmm.. entahlah, hanya Dia yang tau apa lagi yang akan gw hadapi hari ini, gw hanya mampu berharap untuk bisa melalui hari ini tanpa ada kejutan besar lainnya.
Pagi ni di depan pintu tol, tempat biasa gw menantikan bis yang akan mengantarkanku ke tujuan biasanya, tampak lebih ramai dari biasanya, mungkin karena hari ini adalah hari masuk kerja pertama kali sejak libur panjang kemarin. Namun seperti biasanya, keramaian yang sepi, banyak orang lalu-lalang, datang dan pergi, namun jarang sekali terdengar percakapan diantara mereka, seakan mereka benar-benar berada di dunianya masing-masing, dengan visi dan misi yang jauh berbeda, tapi gw yakin ada satu kesamaan di benak mereka, nafkah adalah salah satunya.
Belum habis kepala ini mencerna pemandangan sekitar, tiba-tiba hujan turun tanpa permisi, atau mungkin sudah permisi tapi gw ga sempet peduli, perlahan namun pasti, yang tadinya hanya butiran kecil dalam waktu singkat berubah menjadi lebih besar dan banyak. Buyarlah kerumunan pagi itu, seperti sekumpulan semut di atas makanan yang panik ketika di jahili anak kecil. Berlari kesana-kemari mencari tempat berteduh sambil menaruh tangan di atas kepala, padahal mereka tahu tangan mereka tak sebesar kepala mereka, dalam artian sebenarnya tentunya. Seperti mereka, gw beranjak dari tempat gw berdiri semula, mencari tempat yang teduh, menghindari butiran air yang hampir membasahi seluruh tubuh gw. Gw tahan sedikit larinya biar terlihat lebih “cool”, namun memang merugikan, demi sebuah pandangan dari orang-orang yang belum tentu peduli, gw rela sedikit lebih berbasah-basahan.
‘ah sial..’ gw bergumam dalam hati.. ‘belum sempet dapet bis dah keburu hujan, kacau dah..’ namun tetap dengan wajah yang tenang dan seperti tidak keberatan menjalani pagi ini sambil direpoti oleh cengengnya langit. Dibawah gw mengalirlah air melalui celah-celah jalanan yang tadi masih setengah kering, membentuk gemaris yang tak datar, bergerak tanpa kemonoton-an, meliuk melewati rintang.
Ga lama kemudian tenggelam suara sekitar-gw oleh rintikan hujan yg cukup deras.. gw pun tenggelam tanpa sadar dalam lamunan..
Muncul kembali ingatan-ingatan yang hampir dilumat oleh lamanya waktu yang terlewati, beberapa ingatan yang mengembalikan sedikit rasa itu, rasa hangat yang menelusur, merambat, mengisi sela-sela pori yang kosong, bergerak seakan menyelimuti diri, bergerak dari arah hati ke seluruh tubuh gw.
Sadar betapa hebat gw merindukan rasa itu, entah telah berapa lama gw melupakannya, berapa lama hati ini telah membeku dan tidak merindukan sentuhnya, mungkin lelah yang menutupi semuanya, hingga kerinduan itu tertimbun dan tak pernah muncul ke permukaan hingga saat ini.
(to be continue..)
*ini tulisan dari tahun 2010 kalo ga salah, kalo salah ya maap.
Dengan setelan kantoran biasanya, kemeja; celana katun; tas seukuran file holder, mulailah gw melangkah melewati halaman rumah yang tak begitu luas, terhenti beberapa langkah saat harus melewati pintu pagar sebahu, pintu logam berwarna hijau yang gw anggap sebagai gerbang menuju kehidupan luar yang penuh dengan ketidak pastian.
Sejenak hati berdetak tak tentu, gw pandang langit, langit yg gelap tertutup sebagian oleh awan hujan, langit yang gw rasa sangat cengeng beberapa hari terakhir ini, selalu mengisi hari dengan air matanya, entah itu pagi, siang bahkan malam.
Gw tarik nafas panjang setelah sebelumnya gw urai do’a yang diajarkan ibu waktu gw masih kecil dulu. “Bismillahi tawakaltu alallah, la haula wala kuwata illa billah..”, hmmm.. entahlah, hanya Dia yang tau apa lagi yang akan gw hadapi hari ini, gw hanya mampu berharap untuk bisa melalui hari ini tanpa ada kejutan besar lainnya.
Pagi ni di depan pintu tol, tempat biasa gw menantikan bis yang akan mengantarkanku ke tujuan biasanya, tampak lebih ramai dari biasanya, mungkin karena hari ini adalah hari masuk kerja pertama kali sejak libur panjang kemarin. Namun seperti biasanya, keramaian yang sepi, banyak orang lalu-lalang, datang dan pergi, namun jarang sekali terdengar percakapan diantara mereka, seakan mereka benar-benar berada di dunianya masing-masing, dengan visi dan misi yang jauh berbeda, tapi gw yakin ada satu kesamaan di benak mereka, nafkah adalah salah satunya.
Belum habis kepala ini mencerna pemandangan sekitar, tiba-tiba hujan turun tanpa permisi, atau mungkin sudah permisi tapi gw ga sempet peduli, perlahan namun pasti, yang tadinya hanya butiran kecil dalam waktu singkat berubah menjadi lebih besar dan banyak. Buyarlah kerumunan pagi itu, seperti sekumpulan semut di atas makanan yang panik ketika di jahili anak kecil. Berlari kesana-kemari mencari tempat berteduh sambil menaruh tangan di atas kepala, padahal mereka tahu tangan mereka tak sebesar kepala mereka, dalam artian sebenarnya tentunya. Seperti mereka, gw beranjak dari tempat gw berdiri semula, mencari tempat yang teduh, menghindari butiran air yang hampir membasahi seluruh tubuh gw. Gw tahan sedikit larinya biar terlihat lebih “cool”, namun memang merugikan, demi sebuah pandangan dari orang-orang yang belum tentu peduli, gw rela sedikit lebih berbasah-basahan.
‘ah sial..’ gw bergumam dalam hati.. ‘belum sempet dapet bis dah keburu hujan, kacau dah..’ namun tetap dengan wajah yang tenang dan seperti tidak keberatan menjalani pagi ini sambil direpoti oleh cengengnya langit. Dibawah gw mengalirlah air melalui celah-celah jalanan yang tadi masih setengah kering, membentuk gemaris yang tak datar, bergerak tanpa kemonoton-an, meliuk melewati rintang.
Ga lama kemudian tenggelam suara sekitar-gw oleh rintikan hujan yg cukup deras.. gw pun tenggelam tanpa sadar dalam lamunan..
Muncul kembali ingatan-ingatan yang hampir dilumat oleh lamanya waktu yang terlewati, beberapa ingatan yang mengembalikan sedikit rasa itu, rasa hangat yang menelusur, merambat, mengisi sela-sela pori yang kosong, bergerak seakan menyelimuti diri, bergerak dari arah hati ke seluruh tubuh gw.
Sadar betapa hebat gw merindukan rasa itu, entah telah berapa lama gw melupakannya, berapa lama hati ini telah membeku dan tidak merindukan sentuhnya, mungkin lelah yang menutupi semuanya, hingga kerinduan itu tertimbun dan tak pernah muncul ke permukaan hingga saat ini.
(to be continue..)
*ini tulisan dari tahun 2010 kalo ga salah, kalo salah ya maap.